“ SUARA RAKYAT MENGGEMA DI GEDUNG WAKILNYA : POLRES KOBAR HADIRKAN PENGAMANAN HUMANIS, AKSI DAMAI JADI TELADAN DEMOKRASI SEHAT ”
TARGET OPERASI - Kotawaringin Barat :
Sorak semangat mahasiswa dan masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar) membahana di jalanan utama Kota Pangkalan Bun pada Jumat sore (12/09/2025). Puluhan mahasiswa dari Universitas Antakusuma (Untama), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) bergerak dengan penuh keyakinan. Mereka datang bukan sekadar berkerumun, melainkan membawa "17 + 8 tuntutan rakyat" sebuah simbol perjuangan yang diyakini mewakili suara hati masyarakat luas. Langkah ini pun menjadi panggilan moral untuk para wakil rakyat yang berkantor di balik tembok gedung parlemen.
Aksi ini dimulai dari halaman Universitas Antakusuma (Untama), lalu berlanjut dalam sebuah long march damai menuju Gedung DPRD Kobar. Sepanjang perjalanan, orasi-orasi mahasiswa berkumandang, menggugah kesadaran publik tentang arti penting keberanian menyuarakan keadilan.

Sesampainya di Kantor DPRD, rombongan aksi disambut langsung oleh Ketua DPRD Kobar, Mulyadin, S.H., bersama jajaran anggota dewan lainnya. Dengan sikap terbuka, rombongan massa di persilahkan untuk memasuki halaman depan gedung DPRD Kobar. Bahkan meski hujan sempat mengguyur lokasi, semangat massa tidak surut dalam menjalankan aksinya.
Dengan lantang namun penuh penghargaan, para perwakilan aksi menyampaikan butir-butir tuntutan secara bergantian. Semua aspirasi itu kemudian diterima secara resmi oleh DPRD dan ditandai dengan penandatanganan kesiapan anggota dewan untuk menindaklanjuti. “Semua tuntutan ini kami terima dengan hati terbuka. Kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar aspirasi mahasiswa dan masyarakat benar-benar diwujudkan demi kemaslahatan bersama,” tegas Mulyadin dihadapan massa. Sikap terbuka ini menjadi bukti bahwa hubungan rakyat dan wakilnya bisa terjalin dalam nuansa dialog yang sehat.
Yang tak kalah penting, jalannya aksi damai ini berlangsung tertib, aman, dan tanpa gangguan kamtibmas. Semua itu berkat pengamanan yang dipimpin langsung oleh Kapolres Kobar, AKBP Theodorus Priyo Santosa, S.I.K., bersama jajaran personelnya.
Dengan pendekatan humanis, aparat kepolisian memastikan tidak ada intimidasi, tidak ada gesekan, dan tidak ada tindakan represif. Yang ada hanyalah pengawalan persuasif demi menjaga keselamatan massa sekaligus ketertiban masyarakat sekitar.

Kapolres sendiri menyampaikan apresiasi atas langkah mahasiswa yang memilih jalur konstitusional dalam menyampaikan aspirasi dengan cara damai. “Polri selalu memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Selama dilakukan secara tertib, aman, dan sesuai aturan, Polres Kobar akan selalu hadir dengan pengamanan yang humanis,” ungkap Kapolres. Humanisme aparat ini menjadi nilai tambah dari aksi tersebut, yang membuktikan bahwa Polri bukanlah lawan melainkan mitra rakyat dalam mengawal demokrasi.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Aksi damai mahasiswa Untama dan HMI menunjukkan bahwa perjuangan suara rakyat bisa dilakukan tanpa kekerasan.
Masyarakat diajak untuk memahami bahwa:
1. Menyampaikan aspirasi adalah hak konstitusional yang dijamin undang-undang.
2. Kepolisian adalah mitra masyarakat, bukan lawan, bukan penghalang dalam perjuangan aspirasi.
3. Dialog lebih berharga dari pada kekerasan, karena musyawarah selalu menghasilkan solusi, sedangkan anarkisme hanya melahirkan masalah baru.
Dengan cara ini, mahasiswa Untama, HMI, dan masyarakat Kobar telah memberi teladan bahwa demokrasi bisa dijalankan dengan damai, bermartabat, dan inspiratif. Dengan demikian, aksi damai ini bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan contoh teladan demokrasi sehat di Bumi Marunting Batu Aji.
Momentum 12 September 2025 akan dikenang sebagai hari ketika suara rakyat menggema di Gedung Wakilnya dengan cara yang elegan. Aspirasi diterima, kehormatan mahasiswa sebagai agen perubahan juga diakui. Dan Ketika massa akhirnya kembali dengan tertib menuju kampus Untama sebagai titik kumpul akhir, satu hal jelas tertinggal di halaman DPRD : sebuah pesan moral untuk Kobar bahwa pembangunan hanya akan berjalan jika rakyat, mahasiswa, aparat, dan wakil rakyat mampu berdiri di jalan yang sama yaitu jalan keadilan dan kebersamaan.
Aksi damai ini telah menulis sejarah baru di Kotawaringin Barat (Kobar) : sebuah pertemuan indah antara suara rakyat, keteguhan mahasiswa, keterbukaan wakil rakyat, dan humanisme aparat kepolisian. Dari hujan yang membasahi semangat, inilah wajah Kobar hari ini. Daerah yang menjunjung martabat demokrasi, daerah yang belajar mendengar, dan daerah yang melangkah bersama menuju perubahan.
( TIM TO )